Sejarah mengapa Ketupat Jadi Simbol Idul Fitri

Posted: Agustus 6, 2013 in News, unix
Tag:, , ,

makna-dibalik-ketupat-lebaran1

Beritaunix – Ketupat dalam bahasa Jawa adalah kupat. Oleh Sunan Kalijaga Kupat dijadikan ungkapan simbolisasi, ku = ngaku (mengakui) pat = lepat (kesalahan). Sejak itulah ketupat menjadi ikon hari raya Idul Fitri, bukan saja di tanah Jawa, melainkan juga di seluruh Indonesia.

Padahal, di zaman pra-Islam, kupat adalah makanan sakral yang tidak boleh disajikan secara sembarangan, karena itu menyangkut sesaji. Tapi oleh Sunan Kalijaga kesakralan ketupat diasimilasikan ke Hari Raya Idul Fitri, saat umat Islam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan kewajiban puasa Ramadhan, toh kemenangan itu bukan disambut dengan eforia berlebihan, melainkan hanya saling bermaaf-maafan.

Itulah indahnya Islam, penuh damai, hangat dan saling menghargai. Sebab bagi siapapun umat Islam, hadirnya puasa Ramadhan yang berakhir di hari raya Idul Fitri adalah mekanisme evaluasi diri yang berjalan secara massif, berulang dan berkesinambungan. Terbersit pula makna empati, intropeksi dan keikhlasan untuk saling berbagi.

Makna dari kupat, mengakui kesalahan, berarti tidak satu pun yang boleh merasa benar, sebab dengan merasa yang paling benar berarti seseorang itu telah mengambil-alih kekuasaan Tuhan. Gema Takbir adalah wujud dari pengakuan itu, hanya Tuhan yang Maha Besar, sedangkan manusia, semua dianggap sama di hadapan Tuhan Yang Maha Besar. Manusia tidak dibedakan oleh pangkat dan kedudukan, melainkan oleh amal dan ibadahnya, dan itu selalu diukur sejauh mana manfaatnya bagi manusia yang lain.

Sesungguhnya, Muhammad yang tidak mau dan tidak boleh dilukiskan wajahnya itu, seorang pembebas yang tidak mau namanya dijadikan mitos dan disembah-sembah. Dia hanya wajib diakui sebagai utusan. Utusan dari Yang Maha Besar untuk menerobos jalan buntu peradaban yang penuh riba (penghisapan), pemberhalaan, dan perbudakan. Di bawah kekuasaan kenabiannya pula, tercipta Piagam Madina yang tidak membeda-bedakan warga Madinah atas dasar asal usul, bahkan agama sekalipun.

Siapapun, selama tidak memusuhi Islam, wajib diterima dengan tangan terbuka. Tidak mengherankan pula, bila di suatu Mushola di dekat Taman Mini Indonesia Indah, setiap usai sholat Id, warga muslim dan non muslim berkumpul, dan setelah itu saling bersalaman dan saling bermaaf-maafan. Sebab di hari itulah ada kupat (mengakui kesalahan) di masing-masing sanubari umat.

Dan kini, dengan berkembangnya tehnologi informasi, termasuk di dalamnya berkembang media-media sosial yang memudahkan setiap warga negara saling berinteraksi, marilah di masing-masing sanubari kita yang mengaku orang Indonesia, bukan sekadar mengunggah gambar ketupat disertai ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijrah, melainkan juga mengunggah sekaligus mengunduh pengakuan kebersalahan dan oleh karena itu pula terbuka jalan untuk saling memaafkan.

 

Sumber: Here!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s